Jigsaw (2017): Ketika Kematian Bukan Akhir, Tapi Awal dari Teka-teki Baru
Jigsaw (2017): Ketika Kematian Bukan Akhir, Tapi Awal dari Teka-teki Baru
Blog Article
Kembali ke Ruang Sinopsis Singkat Permainan
Menyusul kesuksesan Saw 3D: In The Final Chapter (2010), produser dan sutradara Spierig, didampingi oleh Peter dan Michael, menghadirkan Jigsaw sebagai reboot yang lembut dari waralaba horor tersukses sepanjang masa. Judulnya yang sederhana mengembalikan nama Jigsaw yang click here sempat digantikan oleh Saw, sekaligus menyampaikan pesan “kami kembali ke akar.”
Cerita dimulai ketika mayat-mayat misterius bermunculan di berbagai penjuru kota dengan luka-luka mengerikan. Setiap petunjuk mengarah pada satu nama: John Kramer, yang juga dikenal sebagai Jigsaw. Namun, John Kramer telah meninggal lebih dari satu dekade sejak Saw III. Siapa yang bertanggung jawab atas semua ini? Apakah ada peniru? Atau mungkinkah Jigsaw benar-benar bangkit dari kubur?
Berbeda dengan kebingungan polisi, kita sebagai penonton disuguhi lima orang asing yang dikurung di sebuah gudang tua. Mereka dibawa ke roda gila yang berputar. “Halo, aku ingin bermain permainan” terdengar sebagai suara khas. Maka dimulailah rangkaian perangkap baru yang sama kreatifnya dengan yang lama, namun dengan teknologi baru yang lebih mulus dan sinematik.
Tetap Terjebak dalam Perangkap Baru
Salah satu ciri utama Saw adalah perangkap-perangkapnya yang kejam sekaligus cerdik. Jigsaw tidak bekerja dengan baik. Ada beberapa di antaranya: Ruang Ember, tempat tiga orang harus masuk untuk mendapatkan kunci; Perangkap Spiral, yang akan mengubah panjang tubuh seseorang seperti bor daging; dan yang paling terkenal adalah Perangkap Kerah Laser, yaitu perangkat berteknologi laser yang akan membunuh seseorang jika mereka gagal memasukkannya dengan cara yang benar. Memang terdengar seperti fiksi ilmiah, tetapi dalam logika Saw.
Report this page